Citra Group, Mengedepankan Etika dalam Berbisnis


Dalam proses estafet bisnis, tidak lepas dari ajaran agama Islam dan akhlak yang menjadi nilai-nilai dasar dalam menjalani urusan kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun dunia bisnis.

Menjalankan bisnis tidak serta merta hanya mencari keuntungan semata. Ada nilai-nilai (values) yang selalu mengikat dan tidak pernah bisa dilepaskan dari proses berbisnis. Seperti kejujuran, menjaga amanah dan tidak lupa pada Tuhan.

Sekilas terlihat klise, namun tidak bagi H.Norhin. Pengusaha asal Banjarbaru Kalimantan Selatan itu sangat menekankan etika dan akhlak dalam menjalankan bisnisnya. Nilai-nilai tersebut telah Norhin buktikan dalam memajukan usahanya di Kalimantan Selatan. Alhasil, bisnis yang ia awali dari berdagang kain di Pasar Tanah Abang, kini berhasil menjadi ‘Raja Daerah’ di wilayah Banjarbaru Kalsel.

Lewat Citra Group, jaringan bisnis Norhin bak gurita mulai dari sektor pertambangan, property, finansial hingga perhotelan. Salah satu bagian dari usahanya yang sangat iconic di Banjarbaru adalah Q Mall dan Q Grand Hotel Dafam Syariah, hotel berbintang empat perdana di Indonesia.

Di Jakarta sendiri, Norhin melakukan pembaharuan bisnis sektor keuangan multifinance dengan mengakuisisi PT Tirta Laras dan merubahnya menjadi perusahaan berbasis full Syariah ke 3 di Indonesia dengan bendera Citifin Multifinance Syariah.

Bagi Norhin, keberhasilan tersebut tidak ada artinya tanpa dibarengi dengan etika dan akhlak dalam berbisnis. Karenanya, dalam proses estafet bisnis yang ia kembangan tersebut tidak lepas dari ajaran agama Islam dan akhlak yang menjadi nilai-nilai dasar dalam menjalani urusan kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun dunia bisnis.

Menurtu Norhin, bentuk penerapan akhlak tersebut dalam berbisnis antara lain adalah menjaga kepercayaan dan amanah yang diberikan mitra bisnis, perbankan dan konsumen.

“Dalam manajemen, selain penugasan, mereka juga harus belajar dari orang yang sudah berpengalaman. Dengan menerapkan prinsip-prinsip tersebut, saya bisa memastikan proses pengkaderan berjalan dengan baik,” jelas Norhin.


Q Grand Hotel Dafam Syariah, hotel berbintang empat perdana di Indonesia.

Merintis Usaha Dari Nol

Sebelum menjadi pengusaha papan atas di Kalsel, Pria kelahiran Amuntai, 5 oktober 1964 ini sempat menimba ilmu di sekolah Pendidikan Guru Atas (PGA) Mulawarman, Banjarmasin. Mengawali usaha pertamanya denga berjualan di pasar malam di daerah Blauran pada 1970-an. Kemudian merambah ke bisnis konveksi di Pasar Kujajing Banjarmasin.

Atas bantuan sahabatnya, Ohen, begitu ia disapa mendapat pinjaman modal senilai Rp 3juta dan relasi bisnis di Tanah Abang. Kesempatan itu ia gunakan untuk mendirikan CV Citra Sasirangan Bersama Taimim teman sekaligus mentor bisnisnya.

Ketekunananya menjalani bisnis berbuah manis. Usaha konveksi yang ia dirikan tersebut berhasil menjadi pemain yang diperhitungkan di di wilayah Kalimantan Selatan. Namun, belum mencapai impian yang diharapkan, usaha yang ia bangun dengan susah payah musnah seketika dilahap ‘sijago merah’ saat terjadi kebakaran besar di Pasar Kujajing.

Haji Norhin sangat terpukul, ia bingung harus memulai dari mana, namun bukan Ohen namanya jika hanya berpangku tangan tanpa ada usaha, mencari solusi terbaik atas musibah yang ia terima. Lagi-lagi karena mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang telah ia terapkan tersebut, para mitra bisnis Norhin di Tanah Abang memberikan sebuah solusi yang diluar pikiran Norhins sebelumnya.

“Alhamdulillah, pedagang di Tanah Abang waktu itu masih memberikan kesempatan dan mempercayakan kepada saya untuk kembali bermitra dengan mereka. Dan yang tidak saya sangka adalah dengan lapang dada mereka membebaskan hutang saya,” kenang Norhin.

Hal tersebut tidak serta merta ia terima tanpa ada track record baik selama menjalin hubungan dengan mitra bisnis. Pengalaman ini mengingatkan kita tentang founder mentality yang dicetuskan oleh Djohari Zein, pendiri Johari Zein Foundation.

“Bagaikan nahkoda di tengah samudera, pemimpin yang memiliki founder mentality tidak akan gentar menghadapi ombak besar dan rintangan yang sulit. Termasuk bila kapalnya pecah dan ia harus memulai kembali dari nol,”  [Djohari Zein]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *