Andreas Senjaya, Mengawinkan Teknologi dengan Pertanian Lewat iGrow

Sebelum duduk dibangku kuliah, Andreas Sanjaya mengaku cita-cita hidupnya sangat sempit. Hanya fokus pada urusan pribadinya sendiri. Mengejar pendidikan tingkat tinggi, setelah itu bekerja, berkeluarga dan bisa menggapai bahagia.

Dunia perkuliahan yang penuh dengan dinamika pemikiran dan pergerakan merubah cara pandang seorang Jay, begitu pria kelahiran 4 September 1989 itu biasa disapa. Jay pun mulai tertarik dengan organisasi kampus bahkan sempat menjadi wakil ketua BEM Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

Cita-cita Jay tidak lagi memikirkan diri sendiri, visi hidupnya diperluas lagi. Jay merasa harus mempunyai kredibilitas dan kapasitas yang luas agar kebaikan yang akan ditularkan dapat berdampak luas bagi masyarakat.

Prinsip tersebut Jay tuangkan dalam sebuah karya nyata yaitu Bard Interactive. Sebuah wadah bagi anak-anak muda visioner untuk berkreasi dan berinovasi menyampaikan kebaikan kepada masyarakat luas. Salah satu bentuk kebaikan yang diciptakan adalah iGrow. Sebuah startup yang mampu mengawinkan teknologi dengan pertanian di Indonesia.

Seperti yang kita ketahui, pertanian ialah salah satu mata pencaharian masyarakat Indonesia yang masih di pandang sebelah mata. Padahal, potensinya sangat menggiurkan. Tentu, tantangannya juga tidak bisa dipandang sebeleh mata juga.

Lewat iGrow, inovasi Jay dan teman-temannya mampu melahirkan sebuah solusi atas berbagai masalah pertanian melalui pendekatan teknologi cloud-based agricultural management software.

Jay mengungkapkan, ide iGrow adalah hasil kolaborasi antara Muhaimin Iqbal, pengusaha pertanian dan pengelola keuangan dengan Jay yang memiliki kemampuan programing. Ide tersebut dikembangkan dalam rumah startup center Depok yang juga dikelola oleh Muhaimin Iqbal.

Model bisnis iGrow menggabungkan antara investor, pemilik lahan dan petani. Seringkali masyarakat ingin berinvestasi di bidang pertanian tetapi tidak punya skill dan lahan yang mendukung. Begitu juga bagi petani, memiliki skill bertani tapi tidak punya lahan dan modal yang mencukupi.

Melalui teknologi yang diterapkan dalam iGrow permasalahn tersebut dapat diatasi. Masyarakat yang memiliki modal (investor) tidak perlu lagi takut sepatunya kotor untuk bercocok tanam dan dapat menikmati hasil dari bisnis pertanian lewat iGrow.

Bagi petani yang tidak memiliki lahan dapat diberdayakan sebagai pengelola lahan pertanian, sementara bagi masyarakat yang memiliki lahan kosong dapat menyewakan tempatnya untuk dijadikan lahan pertanian.

Jenis pertaniannya yang digarap pun beragam dengan berbagai paket pilihan. Mulai dari kacang tanah, kurma, durian, klengkeng, pisang, alpukat, jambu madu deli, dan akar wangi. Nilai paket investasinya juga variatif mulai dari Rp 1,5 juta per unit paket. Tergantung dari jenis bidang yang dipilih serta jangka waktu kontraknya.

“Sejak dirilis pada 2014, iGrow telah memiliki lebih dari 1300 sponsor penanaman, 1200 petani, 80 ha penanaman, dan 300 ton hasil panen kacang tanah”, tutur Jay CEO PT iGrow Resources Indonesia (iGrow) yang berkantor di Startup Center Jl. Ir. H. Juanda Depok, Jawa Barat.

Inovasi tersebut mengantarkan iGrow menjadi startup pilihan diberbagai ajang kompetisi dunia. Diantaranya menjadi juara satu kompetisi Startup Asia 2014 dan kompetisi Payment Dragons Den Asia serta juara kedua dikompetisi Startup Instanbul 2015.

Jay dengan inovasi iGrow nya juga diapresiasi oleh Benny Kusbini Ketua Dewan Hortikultura  Nasional. Menurutnya sekecil apapun inovasi anak negeri terkait dengan holtikultura, harus dihargai, apalagi jika goalnya adalah kesejahteraan masyarakat dan petani. [ALH]

Diolah dari berbagai sumber

Penulis: Ali Lukmanul Hakim

Editor: Syukron Ali

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *