Layanan Logistik Sampai di Hari Yang Sama

Mitra kurir bekerja berdasarkan zonasi wilayah kecil

Perubahan pola konsumsi masyarakat yang menuntut kecepatan pengiriman menjadi tantangan para pelaku usaha di sektor logistik. Apalagi setiap bulan platform e-commerce memberikan berbagai promo untuk menggenjot transaksi.

Walhasil, pergerakan pola tersebut menciptakan ceruk pasar baru yang cukup menggugah untuk memberikan pelayanan logistik yang mutakhir juga. Peluang tersebut juga ditangkap oleh Zaldi Ilham Masita. Veteran logistik yang sudah berkecimpung puluhan tahun di bisnis urusan antar mengantar barang ini sadar betul potensi transaksi ratusan triliun yang diciptakan e-commerce sayang untuk dilewatkan.

“Tapi ini tak bisa difasilitasi oleh model perusahaan logistik konvensional,” kata Zaldi, di bilangan Jakarta Timur Selasa Pekan lalu.

Model bisnis logistik konvensional yang sudah berumur setengah abad tak bisa memberikan layanan antar cepat lantaran memerlukan proses panjang, seperti datang ke agen, proses administrasi tatap muka, penimbangan, dan pemilahan sebelum pengiriman.

Inovasi layanan on demand yang ditawarkan perusahaan ride hiling sebenarnya berongkos lebih mahal, karena sepeda motor berkapasitas kecil plus tarif yang dipatok per kilometer. Karena itulah, Zaldi mencoba mencari solusi dari kedua masalah tersebut dengan mendirikan startup logistik bernama Paxel.

Perusahaan ini mencoba membuka tren layanan logistik satu hari antar kota sebagai bisnis utama.

Perusahaan yang didirikan Januari 2018 lalu itu menjanjikan pengantaran kilat harganya pun flat hanya berbasis kavling wilayah yang terbagi dari Jakarta dan sekitarnya, Bandung, Jogya, Solo dan Semarang dengan ongkos mulai dari Rp 18.000 sekali kirim.

Bahkan, Paxel memberikan garansi uang kembali jika barang mengalami keterlambatan.

“Kalau dibilang mahal, coba saja bandingkan dengan ride hiling atau logistik yang punya layanan serupa,” kata Zaldi.

Dalam mengantar barang, Paxel tetap menggunakan mitra kurir layaknya perusahaan ride hiling. Bedanya, mitra supir hanya diberi ruang operasi sebatas satu kodepos wilayah saja.

Barang yang dikirim akan diestafet antar kurir. Perpindahan barang menggunakan sistem smart locker. Lebih dari 80 locker dan gudang kecil yang digunakan sebagai tempat transit barang.

“Produktifitas kurir tetap tinggi, tapi tak perlu capek. Kenaikan ongkos operasi juga lebih terkendali, kalau orderan lagi ramai,” ujar dia.

Paxel, bisa diakses melalui aplikasi telepon selular. Meski diberikan jaminan uang kembali, pengguna juga diberikan pilihan pengunduran pengantaran barang maksimal 7 hari jika sedang tak ada ditempat. Yang pasti, semua proses pengiriman hingga tiba ditempat bisa terpantau diaplikasi.

Setelah mengisi formulir administrasi dan membayar secara daring, bakal ada mitra kurir terdedikasi yang datang ke rumah untuk mengambil barang dan menaruhnya di feeder Paxel terdekat. Berikutnya akan ada mitra dedicated lainnya yang akan mengirim paket sampai ke tempat tujuan.

Tempo pun menjajal mengirim barang ke Semarang. Barang diambil pukul 08.00 pagi dan tiba ditujuan pukul 21.00 dengan tarif Rp 35.000. Zaldi enggan membeberkan ramuan untuk kecepatan tersebut. Padahal, untuk pengiriman kargo pesawat, minimal barang bisa nongkrong hingga enam jam di bandara dengan berbagai proses.

Setahun berjalan, orderan Paxel tembus 4.000 sehari. Pertumbuhan bulanan pun stabil di atas 30% dengan mitra kurir lebih dari 200 orang. Meski begitu, dia tak menampik keberhasilan pengiriman satu hari tak bisa absolut 100 persen karena banyaknya faktor. Seperti, infrastruktur antar daerah, kemacetan, jadwal pesawat, kecelakaan, dan faktor x lainnya.

Diapun optimistis Paxel bakal makin berkembang kedepannya, tren belanja masyarakat sudah meluas dari yang berupa yang barang hobi ke produk-produk keperluan sehari-hari.

“Tapi, uniknya pelanggan kami justru 80 persen dari retail, bukan platform e-commerce,” ujar Zaldi.

Menurut dia, sektor logistik masih banyak peluang dan tak memiliki standar ajek layaknya sektor keuangan. Industri e-commerce hingga saat ini masih mencari ramuan agar pengiriman barang, bisa cepat.

Tak hanya mencari rekan, tak sedikit e-commerce yang justru menciptakan unit logistiknya sendiri, seperti JD.ID Entitas layanan asal China tersebut bahkan membuat fasilitas gudang dengan 35 drop point atau locker.

“Selama Harbolnas kemarin, kami bahkan operasikan 24 jam penuh, tapi tetap saja mendapat keluhan,” ujar Teddy Arifianto, Head of Corporate Communication & Public Affair JD.ID. [Andi Ibnu]

Sumber: Koran Tempo Edisi 22 Desember 2018

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *