Para Atlet Yang Juga Pandai Bertutur Kata



Ivan Lanin, pakar internet yang tak kenal lelah mengampanyekan penggunaan bahasa Indonesia mengatakan bahwa bertutur dengan bahasa secara baik dan benar melatih seseorang untuk berpikir runut dan teratur. Baik dalam menyiapkan konsep maupun saat menuangkannya dalam tulisan atau bicara.

Kemampuan berbahasa tidak serta muncul begitu saja, tetapi lahir dari kebiasaan yang terus dilakukan berulang-ulang hingga menancap di dalam alam bawah sadar (subconscious mind). Ary Ginanjar Agustian menyebutkan sesuatu yang tertanam dalam alam subconscious akan terjadi secara otomatis dalam perilaku dan perbuatan seseorang.

Kebiasaan menulis ini tidak hanya datang dari para penulis novel, jurnal ataupun wartawan dan dosen. Deretan atlet yang biasa kita lihat lihai menggiring bola di rumput hijau pun pandai bertutur dengan tulisannya. Tidak sekadar menulis status di media sosial, tetapi menuangkan pikirannya dalam artikel berupa esai di blog pribadinya.

Menulis sebuah artikel atau esai sedikit lebih rumit daripada tulisan singkat di media sosial. Setidaknya sang penulis harus memiliki cara berpikir yang runut dan logis serta dapat menerjemahkannya dalam susunan kalimat yang sesuai dengan struktur bahasa yang baik dan benar.

Salah satu atlet yang aktif bertutur lewat tulisan-tulisannya adalah Bambang Pamungkas. Pemain yang akrab disapa Bepe ini, tidak hanya handal berbicara di depan orang banyak (public speaking), ia juga mahir mengekspresikan pikirannya dalam bentuk tulisan.

Sejak tahun 2007 ia sudah rajin menulis di blog pribadinya bambangpamungkas20.com. Banyak hal yang Bepe tuangkan dalam tulisan seperti pandangannya tentang sepakbola nasional, tinjauan pertandingan, kejadian menarik sehari-hari hingga kuliner. Kumpulan tulisan tersebut ditambah dengan beberapa tulisan lain telah diterbitkan sebanyak dua kali yaitu: Ketika Jemariku Menari (terbit 2011) dan Pride (2014).

Selain Bepe, atlet lain yang memiliki hasrat menulis serupa adalah Andritany Ardhiyasa, penjaga gawang andalan Persija dan Timnas Indonesia. Si Bagol, begitu ia sering disapa menulis di andritany26.blogspot.co.id tentang berbagai hal, kebanyakan juga mengenai sepakbola. Hanya saja frekuensi bagol menerbitkan tulisannya di blog tidak sesering Bepe.

Di luar negeri, atlet yang juga aktif menulis adalah Juan Mata.
Mata juga rajin menulis di blog pribandinya juanmata8.com. Biasanya ia menulis minimal seminggu sekali mengenai hasil pertandingan bersama klubnya atau hal-hal lain yang menarik. Situs ini terbit dapat dikunjungi dalam dua bahasa yakni Inggris dan Spanyol.

Cara bertutur (story telling) Bepe dan Andritany di blognya terbilang bagus dan mengalir. Mereka berupaya membeberkan apa yang ada di pikiran mereka secara teratur. Maka tak heran tulisan mereka rata-rata cukup panjang.  Sedangkan setiap terbitan Juan Mata relatif lebih singkat. Nilai plus Mata adalah konsistensinya menerbitkan tulisan setiap minggu, tiap hari Senin, hampir tidak pernah absen sejak ia membela Manchester United.

Manusia sebagai makhluk sempurna dibekali berbagai kecerdasan. Howard Earl Gardner saat mengemukakan Teori Kecerdasan Ganda (multiple intelligences) mengelompokkan kecerdasan tersebut menjadi 9 macam; visual spasial, naturalis, musikal, interpersonal, kinestetik jasmani, intrapersonal, linguistik, logika matematika dan eksistensial .

Semua jenis intelegensia itu ada dalam diri manusia, hanya saja kecerdasan yang menonjol dalam setiap manusia berbeda-beda tergantung bawaan genetis, pendidikan serta pengaruh lingkungan.

Seorang atlet seperti Mata, Bepe dan Bagol memang menonjol kecerdasan kinetis jasmaninya. Tetapi olahraga juga memerlukan kecerdasan lain contohnya logika, visual, interpersonal dan liguistik untuk  bisa menerjemahkan taktik dan menanggapi kondisi pertandingan yang selalu berubah-ubah.

Dalam kehidupan, tidak adil misalnya kita terlalu mengagung-agungkan nilai di ijazah saja. Memang nilai akademis penting, tetapi jangan sampai kita seperti memakai kacamata kuda, mengindahkan kecerdasan-kecerdasan lainnya yang penting untuk mengarungi hidup.

Karena pintar di sekolah belum berarti pintar menjalani hidup.

Kontribusi tulisan oleh: Yulian Ma’mun, Dosen Ekonomi dan Penggemar Bola



Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *