Tidak Ada Pengusaha Yang Tidak Pernah Susah

“Seorang pengusaha yang sukses hari ini, tidak serta merta mendapatkan kesuksesannya dengan mudah. Ada rangkaian proses perjuangan panjang yang dilaluinya”

Demikian penggalan kalimat dari Soedomo Mergonoto, CEO & Pendiri PT Santos Jaya Abadi, perusahaan yang memproduksi kopi merek Kapal Api.

Kapal Api adalah satu dari beberapa brand produk Indonesia yang sudah mendunia. Selain menjadi market leader di dalam negeri, produk anak bangsa Indonesia ini pun sudah menjadi produk unggulan di berbagai benua di dunia. Di China sendiri, Kapal Api berhasil mengenalkan budaya ngopi yang sebelumnya jarang di temui di negara Tirai Bambu tersebut.

Diakui oleh Soedomo, secara resmi Kapal Api mulai beroperasi di Surabaya pada tahun 1971, namun cikal bakalnya sudah dimulai sebelum negara kita bernama Indonesia, tepatnya pada tahun 1927. Ketika itu, Goe Soe Loet, ayahnya Soedomo berjualan kopi bubuk keliling memanggul kopinya dari jalan Panggung ke pelabuhan Perak.

Jangan dibayangkan kopi yang dijual seperti sekarang ini yang sudah bisa siap saji. Waktu itu, kopi yang dijual menggunakan kaleng berisi kopi sekitar 10 kg. Rata-rata kopi yang dibeli sekitar 10 ons yang dibungkus menggunakan koran.

Di pelabuhan Perak tersebut, ayahnya Soedomo menjual kopi bubuknya kepada para awak kapal dari Belanda yang biasa singgah sementara di pelabuhan. Kemudian pada tahun 1965, saat Soedomo masih duduk di bangku kelas menengah atas di sebuah sekolah Tionghoa, tempat ia menimba ilmu terpaksa ditutup karena terjadi peristiwa 1965.

“Wah, sekolahnya ditutup, udah nggak sekolah lagi, enak ini saya bisa main-main terus,” kenang Soedomo saat menghadiri ulang tahun Dahlan Iskan di Surabaya awal bulan Februai 2019 lalu.

Dua tahun kemudian, di tahun 1969, ayahnya Soedomo menyuruh anaknya untuk bekerja di salah satu perusahaan vulkanisir ban di daerah Sidorame Surabaya. Tugas utama Soedomo adalah mengerok ban-ban bekas. Satu tahun bekerja bersama orang lain, Soedomo resign dan kembali menekuni bisnis yang sudah dirintis oleh ayahnya.

Segala daya dan upaya terus dikerjakan untuk mengenalkan produk kopi olahan milik ayahnya. Dengan sepeda, Soedomo berkeliling kota menawarkan kopi ke berbagai lokasi strategis di sekitar Surabaya. Menurut Soedomo, tempat favorit penjualan kopinya terletak di daerah biasa dikenal dengan nama Doli di Surabaya, khususnya di waktu malam hari.

Tidak hanya menjual kopi keliling, di sela-sela waktunya di hari sabtu dan minggu atau di malam hari, Soedomo juga pernah menjadi kernet Bemo di Surabaya bersama teman-temannya. Apa yang dirasakan oleh Soedomo dimasa mudanya, seolah menjadi bekal dan menguatkan mental dan pandangannya dalam mengelola perusahaan yang sekarang sudah menjadi perusahaan kopi terbesar di Asia Tenggara.

Diakui Soedomo, Kapal Api mulai pesat pada tahun 1978. Terinspirasi dari produk-produk Unilever yang menjual produknya seperti sabun dalam bentuk kemasan yang bisa dibeli langsung tunai tanpa ngutang. Di tahun itu juga, Soedomo berinisiatif mengeluarkan produk kopi kemasan 100 gram seharga Rp 100.

Produk kemasan perdana tersebut diperkenalkan lewat iklan di televisi. Format iklannya pun sangat sederhana, hanya dalam bentuk slide dan audio dari pelawak Paemo yang mengucapkan kalimat “‘Yo Iki kopi lebih enak rasanya,” (Ya ini, kopi yang nikmat rasanya). Berkat usaha tersebut, omzet Kapal Api terus meningkat.

Hingga pada tahun 1980an, saat Soedomo berusia 28 tahun membuat suatu keputusan yang sangat radikal. Dana sebesar Rp 137 juta ia cari untuk membeli mesin pengelolah kopi dengen teknologi canggih dari Jerman. Awalnya, sang ayah menolak, karena dianggap hanya memboroskan keuangan perusahaan.

Namun, jiwa muda Soedomo yang tengah bergelora saat itu berhasil meyakinkan ayahnya bahwa dalam satu hari mesin tersebut bisa bekerja selama delapan jam. Seodomo menghitung dengan mesin tersebut pekerjaan semakin mudah dan bisa kembali modal dalam waktu cepat. Bahkan hasilnya pun bisa digunakan untuk menyicil pembayaran mesin selama 1,5 tahun.

“Setelah mesin tersebut dibeli kemudian iklan Kapal Api semakin diperbanyak, hasilnya dalam waktu satu tahun Kapal Api sudah dapat menjadi market leader kopi di Indonesia,” jelas Soedomo mengenang.

Soedomo berpesan, dalam menjalankan bisnis yang perlu ditekankan adalah kejujuran dan jangan sekali-kali ngemplang milik orang lain.

Foto header by: Kargoku.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *